DIREKTUR PIMPIN UPACARA HARDIKNAS


Hari Pendidikan Nasional  tahun 2017 kali ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya upacara Hari Pendidikan Nasional di Politeknik Negeri Pontianak diselenggarakan di halaman kampus, namun mengingat hujan tidak berhenti dan tanpa mengurangi semangat civitas akademika, upacara dilaksanakan di selasar gedung utama. Direktur Politeknik Negeri Pontianak bertindak sebagai Pembina upacara dan dihadiri seluruh pegawai serta mahasiswa.
Pada upacara Hardiknas, Direktur membacakan sambutan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dalam sambutannya Menteri mengatakan mengatakan bahwa tema Hardiknas kali ini adalah “Peningkatan Relevansi Pendidikan Tinggi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi”. Tema ini dipilih untuk menekankan sekarang ini tibalah saatnya perguruan tinggi dalam melaksanakan Tri Dharma Pendidikan Tinggi agar lebih memperhatikan dampak dari aktivitas nya terhadap pengembangan ekonomi, terutama ekonomi di daerahnya. Dengan kata lain, perguruan tinggi lebih dapat memerankan dirinya sebagai agent of economic development disamping agent of education dan agent of research and development. Peningkatan relevansi pendidikan tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, dalam bidang pendidikan, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Perguruan tinggi telah lama mendapatkan kritikan dari dunia kerja dan industri bahwa lulusan perguruan tinggi tidak memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Dalam Undang Undang nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, telah diamanatkan 3 jenis pendidikan tinggi untuk dilaksanakan di Indonesia yaitu: pendidikan tinggi akademik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, perguruan tinggi vokasi untuk mengembangkan keterampilan, dan perguruan tinggi profesi untuk mengembangkan keahlian khusus. Sekarang ini hanya 6 persen perguruan tinggi kita adalah vokasi dalam bidang Science, Technology, Engineering dan Mathematic (STEM). Selain itu, peran industri dalam melaksanakan pendidikan vokasi masih sangat minimal. Untuk lebih meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan industri, ke depan jumlah perguruan tinggi vokasi harus ditingkatkan dan keterlibatan industri harus diintensifkan. Lulusan perguruan tinggi vokasi harus memiliki sertifikat kompetensi disamping ijazah.

                   
Lebih lanjut diungkapkannya, Kementerian Ristekdikti telah mencanangkan program revitalisasi pendidikan vokasi. Pada tahap awal ada 12 politeknik negeri dan 1 politeknik kesehatan yang mengikuti program revitalisasi ini. Revitalisasi mencakup pembangunan kompetensi, restrukturisasi program keahlian dan kurikulum sesuai kebutuhan industri, dan pembangunan infrastuktur fasilitasi industri untuk praktik kerja atau pemagangan bagi mahasiswa dan dosen. Tujuannya jelas, yaitu untuk mengembangkan pendidikan vokasi yang link and match dengan industri. Dengan adanya revitalisasi pendidikan tinggi vokasi ini diharapkan politeknik dapat menghasilkan tenaga kerja profesional dan dapat mendukung 14 kawasan ekonomi khusus (KEK) dan pusat-pusat pertumbuhan di seluruh Indonesia. Selain itu, dari pengembangan pendidikan vokasi ini juga diharapkan dapat menjawab tantangan persaingan pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), terutama pada sektor kesehatan, pariwisata, jasa logistik, jasa online, jasa angkutan udara, produk berbasis agro, barang elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil dan pakaian, otomotif, dan produk berbasis kayu.
Kedua, dalam bidang penelitian, peningkatan relevansi pendidikan tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan melalui hilirisasi penelitian di perguruan tinggi. Penelitian yang dilakukan perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti setelah bisa menghasilkan publikasi, prototype atau paten. Penelitian perguruan tinggi harus dilanjutkan sampai mencapai technology readiness level (TRL) 9 (sembilan) kemudian dikerjasamakan dengan industri agar bias diproduksi dan dipasarkan secara masal. Untuk keperluan ini Kementerian Ristekdikti telah menginisiasi berbagai program. Diantaranya adalah pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI), Science and Techno Park (STP), pemberian hibah penciptaan Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi, pengembangan unit Transfer Teknologi dan Inkubasi Bisnis. Untuk dapat melakukan hilirisasi hasil penelitian di perguruan tinggi, perguruan tinggi harus menetapkan kebijakan, strategi, dan program-program yang dapat mendukung hilirisasi penelitian di perguruan tinggi.
Dalam kurun waktu 2011 – 2016 telah ditetapkan 27 lembaga litbang sebagai PUI. Ke-27 PUI tersebut berasal dari kementerian, lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK), perguruan tinggi, dan badan usaha. Awal tahun 2017 sudah mencapai 72 lembaga litbang, yang terdiri 23 LPNK, 19 kementerian, 1 badan usaha dan 24 dari perguruan tinggi. Jumlah ini tersebar di 18 provinsi di Indonesia. Kemenristkdikti akan terus mengembangkan STP, termasuk di universitas-universitas. STP, atau di Indonesia disebut dengan “Kawasan Sains dan Teknologi” (KST) ini merupakan suatu kawasan atau tempat yang dapat memfasilitasi kerjasama atau kolaborasi riset, teknologi maupun inovasi, antara periset/inventor, universitas dan dunia usaha. Melalui inkubasi bisnis di STP diharapkan akan lahir pengusaha kecil dan menengah (UKM) atau para pengusaha-pengusaha pemula berbasis teknologi. Melalui mereka diharapkan gerak perekonomian di daerah-daerah itu dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Membangun dan mengembangkan STP ini merupakan amanah dari Nawacita ke-6 dan RPJMN 2015-2019. Pembangunan dan pengembangan STP ini sekaligus sebagai upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi hasil riset dan teknologi. Hingga tahun 2016 telah berhasil terealisasi sebesar 12 STP dari target 22 STP yang mature pada tahun 2019 dan terdapat sisa 10 yang harus realisasikan sampai tahun 2019.
Ketiga, dalam bidang pengabdian kepada msyarakat, peningkatan relevansi pendidikan tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan melalui kerjasama yang lebih intensif lagi antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah dan industri untuk menyelesaikan problem-problem riil yang dihadapi masyarakat sekitar perguruan tinggi, baik problem terkait produksi, distribusi maupun teknologi. Untuk mampu menarik mitra kerja pemerintah daerah dan industri dalam menyelesaikan problem-problem riil yang dihadapi, perguruan tinggi harus dapat membuktikan diri dahulu kalau mampu menyelesaikan problem-problem riil tersebut. Untuk itu perguruan tinggi harus meningkatkan kemampuannya untuk menyelesaikan problem-problem praktis melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Pimpinan perguruan tinggi harus mampu membuat kebijakan yang menghargai bahkan memberikan insentif yang cukup bagi dosen-dosen untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri.
Diakhir sambutannya, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengatakan bahwa Peningkatan relevansi pendidikan tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tidak mungkin dilakukan oleh perguruan tinggi itu sendiri, upaya tersebut membutuhkan kerjasama antar institusi pendidikan tinggi, institusi riset, berbagai unit pemerintahan lainnya, dunia kerja dan industri, serta pemangku kepentingan lainnya. Dalam kerangka tersebut, saya mengundang berbagai pihak untuk dapat berkolaborasi, berpartisipasi dan berkontribusi dalam upaya menjadikan perguruan tinggi sebagai institusi yang inovatif, kompetitif dan secara nyata dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional.  Pada Hardiknas kali ini, Direktur menyerahkan Satya Lancana Karya Satya kepada pegawai di Polnep.
(Erwandi – Pranata Humas Muda)


Baca Juga...


  • WARGA POLNEP BUKA PUASA BERSAMA

    Tujuan diadakannya membuka selain meningkatkan silaturahmi, juga dalam rangka syiar agama kita supaya kampus kita (Polnep) selalu mendapat ridho dari Allah Swt. Dan buka puasa merupakan momen bagi kita untuk senantiasa meningkatkan silaturahmi sesama kita warga Politeknik Negeri

  • AKREDITASI “ A “ AKUNTANSI POLNEP, PERTAMA DI KALIMANTAN

    Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Kota Pontianak boleh berbangga atas pencapaian Akreditasi “A” yang diraih Program Studi D3 Akuntansi Politeknik Negeri Pontianak. Pasalnya, akreditasi “A” tersebut yang pertama kali diraih se-Kalimantan untuk prodi

  • POLNEP GELAR IBM DI SUNGAI KUPAH PENGANEKARAGAMAN OLAHAN PRODUK IKAN RUCAH

    Jurusan Perikanan, Akuntansi dan Administasi Bisnis Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) menggelar kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi / iptek bagi masyarakat (IbM) di Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Jumat, 26 Mei 2017. Pelatihan

  • PKM POLNEP DI DESA PEMATANG TUJUH

    Latih Olah Kelapa dan Jagung Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) kembali menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Kabupaten Kubu Raya. Kegiatan kali ini berupa pelatihan penganekaragaman produk olahan kelapa dan jagung bertempat di balai Desa Pematang Tujuh,

  • INOVASI POLNEP DI DESA PAK BULU

    Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah menerima pelatihan inovasi olah pangan dari Singkong yang digelar Jurusan Teknologi Politeknik Negeri Pontianak (Polnep), Kamis, 25 Mei 2017. Kegiatan tersebut diketuai Agato ST M.Eng, dengan anggota Dr Kardison Lumban Batu

POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

  • Address: Jl. Akhmad Yani Pontianak
    78124, P.O BOX 1286
  • Email: kampus@polnep.ac.id
  • Website: www.polnep.ac.id
  • Telp/Fax: +62 0561 736180 / +62 0561 740143

POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

  • Address: Jl. Akhmad Yani Pontianak
    78124, P.O BOX 1286
  • Email: kampus@polnep.ac.id
  • Website: www.polnep.ac.id
  • Telp/Fax: +62 0561 736180 / +62 0561 740143
SEO Reports for polnep.ac.id