Pontianak, Humas Polnep - Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) kembali memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam mendorong pengembangan riset yang berorientasi pada kebutuhan dan potensi daerah. Upaya tersebut dilaksanakan melalui kunjungan Polnep ke Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Kalimantan Barat, pada Senin (26/10) untuk membahas identifikasi isu strategis daerah sebagai dasar penyusunan usulan Program Berdikari Tahap II.
Kunjungan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Direktur Bidang Kerja Sama Politeknik Negeri Pontianak sekaligus Ketua Konsorsium Kalimantan Barat, Topan Prihantoro, S.T., M.T., bersama anggota konsorsium, Ir. Alban Naufal, S.T., M.Si. Kehadiran Polnep disambut baik oleh sejumlah pejabat fungsional Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Kalimantan Barat, khususnya perwakilan dari Bidang Riset dan Inovasi serta Bidang Perencanaan Perekonomian dan Sumber Daya Alam.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan arah penelitian dan inovasi dengan prioritas pembangunan daerah maupun nasional. Melalui koordinasi ini, Polnep juga menjajaki dukungan pemerintah daerah agar program riset yang diusulkan memiliki landasan kebutuhan yang jelas serta dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Program Berdikari Tahap II yang dibawahi langsung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, mensyaratkan adanya komitmen serta surat dukungan dari pemerintah daerah. Dalam hal ini, Bapperida menjadi mitra yang strategis karena memiliki peran dalam perencanaan pembangunan serta pemetaan berbagai persoalan dan potensi daerah.
Dalam pembahasan tersebut, Polnep dan Bapperida turut mendalami tiga skema utama Program Berdikari Tahap II yang dapat menjadi acuan dalam merumuskan usulan riset. Skema pertama yaitu Mandala, yang diarahkan pada riset untuk menjawab isu strategis nasional dan selaras dengan persoalan prioritas daerah. Skema ini mencakup enam ruang lingkup, yaitu katahanan dan kedaulatan pangan, pelestarian ekosistem dan lingkungan, kemandirian energi dan ketahanan air, pemerataan dan mutu kesehatan, infrastruktur dan konektivitas terintegrasi, serta mitigasi kebencanaan.
Selain itu ada Skema Skala Plus yang berfokus pada pengembangan potensi daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sementara itu, skema ketiga, Saintek Nusantara, menitikberatkan pada riset berbasis studi kebijakan. Hasil penelitian dari skema ini diharapkan menjadi bahan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan.
Dalam pertemuan tersebut, diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun proposal. Sejumlah persoalan lingkungan, potensi komoditas lokal, hingga penguatan ekonomi masyarakat menjadi perhatian dalam pembahasan tersebut.
Melalui pertemuan ini, Politeknik Negeri Pontianak berharap proses identifikasi isu strategis dan penyusunan usulan Program Berdikari Tahap II dapat dilakukan secara mandiri, lebih terarah, dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah penting untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan inovasi, penguatan ekonomi masyarakat, dan penyelesaian persoalan daerah.
Dengan adanya kolaborasi ini, Politeknik Negeri Pontianak berkomitmen untuk terus mengambil peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang berpijak pada potensi lokal serta berkontribusi terhadap pembangunan Kalimantan Barat.
/