Bagi masyarakat Kalimantan Barat, terutama di kawasan pesisir Sambas, aroma tajam dan cita rasa sedikit pedas dari daun kesum (Polygonum minus Huds.) adalah identitas budaya yang tak terpisahkan. Kesum dalam semangkuk bubur pedas khas Sambas bukan sekadar pelengkap masakan, melainkan penciri warisan kuliner tradisi Kalimantan Barat.
Selama bertahun-tahun, tanaman ini tumbuh subur di pekarangan dan lahan warga, dan dikenal sebagai flora khas Kalimantan Barat. Kesum menyimpan peran strategis sebagai fondasi ketahanan pangan berbasis kearifan lokal (local food security). Ketika masyarakat memanfaatkan kesum dalam hidangan harian, mereka tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga melengkapi asupan gizi mikronutrien secara alami.
Kesum bukan semak biasa. Berbagai riset akademisi dari banyak negara menguak sisi penting selembar daun hijau yang beraroma pedas dan menyengat ini. Rasa pedas dan wangi khasnya menandakan kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang kaya. Senyawa bioaktif itu bukan sekadar pemberi rasa, melainkan juga penangkal penyakit. Kandungan senyawa fenolik di dalamnya menempatkan kesum sebagai salah satu sumber antioksidan alami yang menjanjikan dari wilayah tropis.
Para ahli farmakologi mulai memberi perhatian. Menurut data yang dihimpun Christapher dkk. (2015), minyak atsiri kesum memberikan efek farmakologis yang luas bagi kesehatan manusia. Dalam pengujian, ekstraknya mampu mencegah oksidasi LDL (low-density lipoprotein), yang lebih akrab kita sebut kolesterol jahat. Efek ini penting untuk mencegah penyakit kardiovaskular seperti jantung koroner dan stroke. Kesum juga menunjukkan aktivitas anti-inflamasi, analgesik sebagai pereda nyeri alami, hingga sifat gastroprotektif yang melindungi dinding lambung dari luka akibat asam berlebih. Artinya, daun kesum yang dijual murah dalam ikatan kecil di pasar tradisional Kalbar ternyata bahan baku obat dengan potensi kualitas tinggi.
Potensi ekonominya pun sudah menyentuh industri hilir. Zulkafli (2022) menyebut daun kesum berpotensi besar sebagai bahan baku pangan fungsional, tren global saat ini ketika makanan dikonsumsi bukan hanya agar kenyang, tetapi juga untuk mencegah penyakit. Riset Syaiful dkk. (2015) menunjukkan minyak atsiri daun kesum segar didominasi dodekanol 31,18 persen, dekanal 16,88 persen, 1-dodekanol 6,12 persen, drimenol 4,63 persen, dan trans-caryophyllene 4,37 persen.
Mengembangkan oleoresin daun kesum jauh lebih menjanjikan daripada sekadar mengekstrak minyak atsiri atau menjual daun segar. Oleoresin adalah hasil ekstraksi yang memuat minyak atsiri dan resin, menghasilkan konsentrat rasa serta aroma alami tanaman. Industri pangan dan farmasi global menyukainya karena efektif dalam formulasi, fleksibel dipakai di berbagai medium, dan tahan simpan hingga bertahun-tahun tanpa pengawet kimia tambahan. Dengan beralih ke oleoresin, tantangan jarak Kalimantan Barat dari pusat industri manufaktur dunia dapat diatasi.
Saatnya mengangkat tanaman endemik ini dari komoditas pertanian bernilai rendah menjadi komoditas industri bernilai tinggi. Kesum siap menjadi penggerak ekonomi berbasis keanekaragaman hayati (biodiversity) lokal yang diakui dan dicari pasar.
Setidaknya ada empat alasan kesum layak mendukung ketahanan pangan.
1. Keragaman pangan dan kemandirian gizi lokal
Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan beras, jagung, atau gandum, tetapi juga keragaman gizi (nutritional diversity). Kesum kaya senyawa fitokimia, antioksidan, serta vitamin dan mineral penting.
2. Bertahan di lahan marginal dan adaptif terhadap iklim
Perubahan iklim dan menurunnya kualitas lahan pertanian adalah ancaman besar bagi ketahanan pangan global. Kesum mampu tumbuh subur di lahan basah, pekarangan, hingga lahan marginal dengan perawatan seadanya, tanpa pupuk kimia mahal maupun pestisida berat. Daya tahan dan kemudahan perbanyakannya menjadikannya sumber pangan alternatif.
3. Cocok ditanam di lahan pekarangan
Pada skala rumah tangga, kesum adalah cara efektif memanfaatkan pekarangan. Tanaman di sekitar rumah membuka akses pangan yang cepat, segar, dan terjangkau (food accessibility). Ketika keluarga mampu memenuhi kebutuhan sayur dan bumbu aromatik dari pekarangan sendiri, ketergantungan pada rantai pasok pasar berkurang dan pengeluaran rumah tangga pun terhemat.
4. Melestarikan pengetahuan lokal dan identitas pangan
Ketahanan pangan yang berkelanjutan bertumpu pada pengetahuan lokal. Tradisi mengolah kesum yang diwariskan turun-temurun adalah cara kita menjaga kebiasaan makan sehat berbasis komoditas lokal.
Semoga tulisan ini menambah semangat kita untuk berpartisipasi mewujudkan ketahanan pangan, dengan melestarikan dan menjaga kesum sebagai tanaman lokal berbasis kearifan, serta mengolahnya menjadi pangan fungsional yang bernilai ekonomis.
Penulis : Susana, SP., M.Sc.
Dosen Prodi D4 PHPT Politeknik Negeri Pontianak; Mahasiswa S3 Universitas Muhammadiyah Malang